Kompleks Rumah Cina Cik Tolek Pariaman

Posted on

Kompleks Rumah Cina Cik Tolek

Berdasarkan inskripsi yang terdapat di dinding tembok belakang (sisi utara), rumah ini dibangun oleh Noer Elma Roslina binti St. Haroen Rasjid pada tanggal 9 juni 1935. Tokoh ini pada masanya merupakan seorang yang terpandang dan kaya di Pariaman. Penamaan bangunan “Rumah Cik Tolek” diperkirakan berdasarkan penyebutan masyarakat lokal Pariaman yang mengibaratkan bahwa “Cik Tolek” merupakan panggilan terhadap seseorang individu yang kaya, terpandang dan terpelajar. Namun pada masanya, sebutan ini lebih berorientasi kepada keturunan Cina. Selanjutnya rumah ini dihuni oleh Syarifah Umi.

Ketika Jepang masuk ke Pariaman sekitar tahun 1942, diperkirakan bangunan ini dikuasai oleh Jepang atau orang Cina, bahkan bangunan sisi selatan yang masih di miliki oleh Syarifah Umi (keturunan Noer Elma Roslina binti St. Haroen Rasjid) sampai sekarang masih dinamakan Gedung Kowaki. Setelah Jepang Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat Wilayah Kerja Provinsi Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau Tahun 2018 meninggalkan Pariaman dan warga Cina eksodus, bangunan ini diambil alih lagi oleh keturunan Noer Elma Roslina binti St. Haroen Rasjid. Sampai sekarang, rumah ini masih belum mengalami perubahan bentuk dan fungsinya.

Rumah ini sekarang di huni dan dikelola oleh keturunan Noer Elma Roslina binti St. Haroen Rasjid yakni Nur Elma Harun. Rumah Cik Tolek merupakan rumah hunian yang secara umum berbahan kayu dengan atap seng. Bangunan berdenah persegi panjang berukuran panjang 20 m dan lebar 8 m dengan orientasi arah barat. Rumah ini berpondasi masif bergaya arsitektur modern yang memadukan unsur tradisional dan kolonial. Arsitek tradisional dilihat pada bentuk bangunan yang merupakan rumah panggung. Sedangkan arsitek kolonial dapat dilihat pada bentuk pintu dan jendela. Ventilasi rumah berbentuk bunga matahari.